8/31/2008

Memberi dan Menerima Suap

Memberi uang suap kepada qadhi atau hakim agar ia membungkam kebenaran atau melakukan kebatilan merupakan suatu kejahatan. Sebab perbuatan itu mengakibatkan ketidakadilan dalam hukum, penindasan orang yang berada dalam kebenaran serta menyebarkan kerusakan di bumi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta kalian di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu memberikannya kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda sebagian orang, dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al Baqarah : 188).

Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah disebutkan :

“Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam (urusan) hukum” (HR Ahmad, 2/387; shahihul jami’ : 5069).

Adapun jika tak ada jalan lain lagi selain suap untuk mendapatkan kebenaran atau menolak kezhaliman maka hal itu tidak termasuk dalam ancaman tersebut.

Saat ini, suap menyuap sudah menjadi kebiasaan umum, bagi sebagian pegawai, suap menjadi income / pemasukan yang hasilnya lebih banyak dari gaji yang mereka peroleh. Untuk urusan suap menyuap banyak perusahaan dan kantor yang mengalokasikan dana khusus. Berbagai urusan bisnis atau mua’malah lainnya, hampir semua dimulai dan di akhiri dengan tindak suap. Ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi orang-orang miskin. Karena adanya suap, undang-undang dan peraturan menjadi tak berguna lagi. Soal suap pula yang menjadikan orang yang berhak diterima sebagai karyawan digantikan mereka yang tidak berhak.

Dalam urusan administrasi misalnya, pelayanan yang baik hanya diberikan kepada mereka yang mau membayar, adapun yang tidak membayar, ia akan dilayani asal-asalan, diperlambat, atau diahirkan. Pada saat yang sama, para penyuap yang datang belakangan, urusannya telah selesai sejak lama.

Karena soal suap menyuap, uang yang semestinya milik mereka yang bekerja, bertukar masuk kedalam kantong orang lain, disebabkan oleh hal ini, juga hal yang lain maka tak heran jika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memohon agar orang-orang yang memiliki andil dalam urusan suap menyuap semuanya dijauhkan dari rahmat Allah.

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap” (HR Ibnu Majah, 2313; shahihul jam’ : 5114).

Read More......

8/30/2008

Khutbah Rosulullah SAW Menjelang Ramadhan

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan ALLAH dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi ALLAH. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu ALLAH dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Memohonlah kepada ALLAH Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar ALLAH membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan ALLAH di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.

Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada ALLAH dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika ALLAH Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! ALLAH ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi ALLAH nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Sahabat-sahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan: Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, ALLAH akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, ALLAH akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, ALLAH akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, ALLAH akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, ALLAH akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa melakukan shalat sunat dibulan ini, ALLAH akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, ALLAH akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Qur’an, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur’an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama dibulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan ALLAH”.

Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang ALLAH telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.

Barangsiapa mendekatkan diri kepada ALLAH dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.

Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan ALLAH memberikan rizqi kepada mukminin di dalamnya.

Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya ALLAH mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.

Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain ALLOH dan mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.

Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga. (HR. Ibnu Huzaimah).

Read More......

8/24/2008

Abu Nawas : Pintu Akherat

Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat
biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan
siapa pun agar lebih leluasa bergerak.
Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya
seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang
berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang
menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang
dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.
"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya,
tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat
penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara
membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" Ulama itu
berpikir sejenak kemudian ia berkata,

"Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain.
Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi
dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan
takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la
merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang
duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa.
Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jika
masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya,
mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"
Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut
mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam
akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu,
termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat
luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga
karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satu
mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau
pulang kembali ke istana.
Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas
dipanggil: Setelah menghadap Bagiri
"Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian
bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu.
Apakah engkau sanggup Abu Nawas?"
"Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas
yang mustahil dilaksanakan itu. "Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu
sarat yang akan hamba ajukan."
"Sebutkan syarat itu." kata Baginda Raja.
"Hamba morion Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat." jawab Abu
Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.
"Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu.
Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah
kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat.
Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota
di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu."
Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.
Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya
lagi,
"Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?" Baginda Raja tidak
menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon
diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.

Read More......

8/19/2008

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi

Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua
orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual
kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si
pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh
murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada
malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta
batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu
Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan
berddfa di pihak yang benar.
Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa
peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.

Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak
Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu
Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu,
jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa
yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang
hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi.
Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih
ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang
kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani
mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan
bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan
rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya
"Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya
kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu
Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa
sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"
Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam
hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.
Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus
lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah
perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi
yang baru ini Tuanku."
Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la
terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran
karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti
ini !" perintah Baginda.
"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu
ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang
sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi
kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini
hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung
mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda
Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah
terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik
pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan
akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya
seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda
Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di
depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke
hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak
engkau datang ke negeri ini."
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan
pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia
menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad
moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya
dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas
pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun
kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke
negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada
penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

Read More......

Judi

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Sesungguhnya (minuman) khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 90).

Di antara tradisi orang-orang jahiliyah dahulu adalah berjudi. Adapun bentuk judi yang paling terkenal pada waktu itu adalah sepuluh orang berserikat membeli seekor onta dengan saham yang sama. Kemudian dilakukan undian. Dari situ, tujuh orang dari mereka mendapatkan bagian yang berbeda-beda menurut tradisi mereka, dan tiga orang lainnya tidak mendapatkan apa-apa, dan mereka wajib membayar harga unta.

Adapun di zaman kita saat ini maka bentuk perjudian sudah beraneka ragam, di antaranya :

A. Yanasib (undian) dalam berbagai bentuknya. Yang paling sederhana di antaranya adalah dengan membeli nomor-nomor yang telah disediakan, kemudian nomor-nomor itu diundi. Pemenang pertama mendapatkan hadiah yang amat menggiurkan. Lalu pemenang kedua, ketiga dan demikian seterusnya dengan jumlah hadiah yang berbeda-beda. Ini semua adalah haram, meski mereka berdalih untuk kepentingan sosial.

B. Membeli suatu barang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dirahasiakan atau memberinya kupon ketika membeli barang, lalu kupon-kupon itu diundi untuk menentukan pemenangnya.

C. Termasuk bentuk perjudian di zaman kita saat ini adalah asuransi jiwa, kendaraan, barang-barang, kebakaran, atau asuransi secara umum, asuransi kerusakan dan bentuk-bentuk asuransi lainnya. bahkan sebagian artis penyanyi mengasuransikan suara mereka, ini semuanya haram.

Demikianlah, dan semua bentuk taruhan masuk daam kategori judi. Pada saat ini bahkan ada club khusus judi (kasino) yang di dalamnya ada alat judi khusus yang disebut rolet khusus untuk permainan dosa besar tersebut.

Juga termasuk judi, taruhan yang di adakan saat berlangsungnya sepak bola, tinju atau yang semacamnya. Demikian pula dengan bentuk- bentuk permainan yang ada di beberapa toko mainan dan pusat hiburan, sebagian besar mengundang unsur judi, seperti yang mereka namakan dengan lippers.

Adapun berbagai pertandingan yang kita kenal sekarang, itu ada tiga macam :

Pertama , untuk maksud syiar Islam, maka hal ini dibolehkan, baik dengan menggunakan hadiah atau tidak. Seperti pertandingan pacuan kuda dan memanah. Termasuk dalam kategori ini –menurut pendapat yang kuat- berbagai macam perlombaan dalam ilmu agama, seperti menghapal Al Qur’an.

Kedua : perlombaan dalam sesuatu yang hukumnya mubah, seperti pertandingan sepak bola dan lomba lari, dengan catatan, tidak melanggar hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan shalat, membuka aurat dan sebagainya, semua hal ini hukumnya jaiz (boleh) dengan syarat tanpa menggunakan hadiah.

Ketiga : perlombaan dalam sesuatu yang diharamkan atau sarana kepada perbuatan yang diharamkan, seperti lomba ratu kecantikan atau tinju. Juga termasuk dalam kategori ini penyelenggaraan sabung ayam. Adu kambing atau yang semacamnya.

Ini merupakan ringkasan diskusi bersama Syaikh Abdul Muhsin Az Zamil, semoga Allah menjaganya, kalau tidak salah beliau telah menulis makalah khusus tentang masalah ini.

Read More......

Hilangnya Rasa Cemburu

Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

“Tiga (jenis manusia) Allah haramkan atas mereka surga: peminum khamr (minuman keras) pendurhaka (kepada orang tuanya) dan dayyuts (yaitu ( yang merelakan kekejian dalam keluarganya” (HR Al Bukkhari, lihat Fathul bari : 8/45)

Penjelmaan diyatsah di zaman kita sekarang di antaranya adalah menutup mata terhadap anak perempuan atau istri yang berhubungan dengan laki-laki lain di dalam rumah, atau sekedar mengadakan pembicaraan dengan dalih beramah tamah, merelakan salah seseorang wanita dari anggota keluarganya berduaan dengan laki-laki bukan mahram.

Termasuk pula membiarkan salah seorang wanita anggota keluarganya mengendarai mobil berduaan dengan laki-laki bukan mahram seperti sopir dan yang sejenisnya, membiarkan mereka keluar tanpa hijab sehingga orang yang lalu lalang di jalan dapat memandangnya dengan jelas dan leluasa.

Juga membawa ke dalam gedung film-film porno atau majalah-majalah yang menebarkan kerusakan dan menghilangkan rasa malu dan masih banyak lagi bentuk diyatsah yang lain.

Hanya kepada Allah tempat mengadu…. Semakin jauhnya kaum muslimin dari agama. Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim….

Read More......

Balas Budi Burung Bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?". "Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru.

Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru.

"Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

Read More......

Kancil si pencuri Timun

Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang.
Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.
"Ada apa, sih?" kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Kambing. " Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! "
Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.

Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya.
"Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini."
Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?'7 Kancil semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku."

Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani.
"Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!
"Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."

Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?
"Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik."
Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Kancil sambil menguap.
Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...

Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku."
Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih."
Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas.
Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.

Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. "Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?"
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. 7 @ Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen timunku jadi berantakan."
Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.

Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi....
Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
"Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.

Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. "Benar-benar keterlaluan! " seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri."
Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya."
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! "
Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!

Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.
"Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?"
Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."

"Maafkan saya, Pak," sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. "Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?"
Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
"Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya.
Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
" Lepaskan tanganku! " teriak Kancil j engkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. "Aduh, bagaimana ini?"


Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. "Nah, ini dia pencurinya! " Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri


timunku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. "Katanya kancil binatang yang cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha.... "
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
" Aku harus segera keluar malam ini j uga I " tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. "
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"

Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak."
Kancil tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! "
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta.
"Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.
"Terima kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.

Kancil yang cerdik, temyata mudah diperdaya oleh Pak Tani. Itulah sebabnya kita tidak boleh takabur.


Read More......

Cindelaras

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya.

Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..."

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Pesan moral :
Kebaikan akan berbuah kebaikan sedang kejahatan akan mendatangkan penderitaan.



Read More......

8/18/2008

Aji Saka


Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.

Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

Read More......

Abu Nawas : Pesan Bagi Hakim

Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama
besar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia
yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di
Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar
bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir.
Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran
orang Arab", la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat
pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya
menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.
Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu
Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang
sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur
jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan
Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara
memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka
Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu
menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.
Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi
gila.



Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong
batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang
pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya.
Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup
banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia
mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka
menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh
bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang
menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir
utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu
Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan
di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan
sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu
Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas
sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan
keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu
Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia
kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu
Nawas di hadirkan di hadapan raja.
Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya
ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada
para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli
tentara yang bertubuh kekar.
Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang
kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah
mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi
hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian,
aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah
Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan
sudah sering menerima hadiah dari Baginda."
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar
lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu
menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu
saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.
Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan
Harun Al Rasyid.
"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari
mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima
kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah
Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau
telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali
pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah
sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang
itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah
mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka
hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya.
Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya
berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian
seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut
Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga
pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras
orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan
memecat dan menghukum kamu!"
"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.
Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba
diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon
ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan
Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia
tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong
uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan
semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.
Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para
menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai
kadi?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang
semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja
menjadi kadi."
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru
saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain
saja."
Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al
Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak
lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda
untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan
dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda
menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan
syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang
lain saja."
Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia
panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati
bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah
telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga
kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau
sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"
"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau
harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."
Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan
masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang
seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah
resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan
mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka
buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan
Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap
memilihmu sebagai Kadi."
Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk
menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau
penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu
perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak
konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali
dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda
Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.


Read More......

Tidak Cebok Sesudah Buang Air Kecil

Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Di antaranya soal menghilangkan najis. Islam mensyariatkan agar umatnya melakukan istinja’ (cebok dengan air) dan istijmar (membersihkan kotoran dengan batu) lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dimaksud.

Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan bajunya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan bahwa perbuatan tersebut salah satu sebab dari pada azab kubur

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata : “Suatu kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melewati kebun di antara kebun-kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda benar (dalam riwayat lain sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba” (HR Bukhari, Fathul Bari : 1/317).



Bahkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan :

“Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil” (HR Ahmad : 2/236, Shahihul Jami’ : 1213).

Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis, atau sengaja kencing dalam posisi tertentu atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya, atau sengaja meninggalkan istinja’ dan istijmar tidak teliti dalam melakukannya.

Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar masuk kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakainnya dan mengenakannya dalam keadaan najis.

Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan. pertama ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia dan kedua, ia tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya

Read More......

8/17/2008

Khalwat (Berduaan) Dengan Wanita Yang Bukan Mahram

Syaitan amat giat dalam menebarkan fitnah dan menjerumuskan manusia kepada yang haram. Karena itu Allah Subhanahu wata'ala mengingatkan kita dengan firmannya :

“Hai orang –orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Berangsiapa mengikuti langkah-langkah syaitan maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar” (An Nur : 21).

Syaitan masuk kepada anak Adam bagaikan aliran darah. Diantara cara-cara syaitan di dalam menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan keji adalah khalwat dengan wanita bukan mahram. Karenanya, syariat Islam menutup pintu tersebut, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

“Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah syaitan” (HR At Tirmidzi, 3/474; lihat Misykatul mashabih: 3188)



Dan dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh hendaknya tidak masuk seorang laki-laki dari kamu setelah hari ini kepada wanita yang tidak ada bersamanya (suami atau mahramnya) kecuali bersamanya seorang atau dua orang laki-laki. (HR Muslim : 4/1711)

Berdasarkan petunjuk hadits di atas, maka tidak dibolehkan seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita bukan mahram, baik di rumah, di kamar, di kantor, atau di mobil, baik dengan istri saudaranya dengan pembantunya atau pasien wanita dengan dokter atau yang semacamnya.

Banyak orang meremehkan persoalan ini, entah karena terlalu percaya kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Padahal khalwat sangat potensial untuk mengundang perbuatan mungkar dan maksiat. Paling tidak, membangun prolog untuk mengarah ke sana. Karenanya tidak mengherankan, jika semakin banyak ketidak jelasan nasab dan keturunan. Di samping jumlah anak-anak haram juga meningkat tajam.


Read More......

8/15/2008

Memakan Harta Haram

Orang yang tidak takut kepada Allah, tentu tak peduli dari mana harta dan bagaimana ia menggunakannya. Yang menjadi pikirannya siang dan malam hanyalah bagaimana menambah simpanannya meski berupa harta haram, baik dari hasil pencurian, suap, ghasap (merampas), pemalsuan, penjualan sesuatu yang haram, kegiatan ribawi, memakan harta anak yatim, atau gaji dari pekerjaan haram seperti perdukunan, pelacuran, menyanyi, korupsi dari baitul mal umat Islam atau harta milik umum, mengambil harta orang lain secara paksa, atau meminta disaat berkecukupan dan sebagainya.

Lalu dengan harta haram itu ia makan, berpakaian, berkendaraan, membangun rumah, atau menyewanya, melengkapi perabotannya, serta membuncitkan perutnya dengan hal-hal yang haram tersebut. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :


“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas baginya” (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir, 19/136, Shahihul Jami’ : 4495).



Pada hari kiamat ia akan ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan bagaimana ia menggunakannya. Di sana tentu ia akan mengalami kerugian dan kehancuran besar.

Karena itu, orang yang memiliki harta haram hendaknya segera berlepas diri daripadanya. Jika merupakan hak antar manusia maka ia harus segera mengembalikannya kepada yang berhak, dengan memohon maaf dan kerelaan, sebelum datang suatu hari yang hutang piutang tidak lagi dibayar dengan uang, tetapi dengan pahala atau dosa.

Read More......

Zina

Di antara tujuan syariat adalah menjaga kehormatan dan keturunan, karena itu syariat Islam mengharamkan zina, Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra’ : 32)

Bahkan syariat menutup segala pintu dan sarana yang mengundang perbuatan zina. Yakni dengan mewajibkan hijab, menundukkan pandangan, juga dengan melarang khalwat (berduaan di tempat yang sepi) dengan lawan jenis bukan mahram dan sebagainya.

Pezina muhshan (yang telah beristri) dihukum dengan hukuman yang paling berat dan menghinakan. Yaitu dengan merajam (melemparnya dengan batu hingga mati). hukuman ini ditimpakan agar merasakan akibat dari perbuatannya yang keji, juga agar setiap anggota tubuhnya kesakitan, sebagaiman dengannya ia menikmati yang haram.

Adapun pezina yang belum pernah melakukan senggama melalui nikah yang sah, maka ia dicambuk sebanyak seratus kali. Suatu bilangan yang paling banyak dalam hukuman cambuk yang dikenal dalam Islam. Hukuman ini harus disaksikan sekelompok kaum mukminin. Suatu bukti betapa hukuman ini amat dihinakan dan dipermalukan. Tidak hanya itu, pezina tersebut selanjutnya harus dibuang dan diasingkan dari tempat ia melakukan perzinaan, selama satu tahun penuh.



Adapun siksaan para pezina -baik laki-laki maupun perempuan- di alam barzakh adalah ditempatkan di dapur api yang atasnya sempit dan bawahnya luas. Dari bawah tempat tersebut, api dinyalakan. Sedang mereka berada didalamnya dalam keadaan talanjang. Jika dinyalakan mereka teriak, malolong-lolong dan memanjat keatas hingga hampir-hampir saja mereka bisa keluar, tapi bila api dipadamkan, mereka kembali lagi ke tempatnya semula (di bawah) lalu api kembali lagi dinyalakan. Demikian terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat.

Keadaannya akan lebih buruk lagi jika laki-laki tersebut sudah tua tapi terus saja berbuat zina, padahal kematian hampir menjemputnya, tetapi Allah Tabaroka wata’ala masih memberinya tenggang waktu.

Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan :

“Tiga (jenis manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, juga Allah tidak akan menyucikan mereka dan tidak pula memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta, dan orang miskin yang sombong”. (HR Muslim : 1/102-103).

Di antara cara mencari rizki yang terburuk adalah mahrul baghyi. yaitu upah yang diberikan kepada wanita pezina oleh laki-laki yang menzinainya.

Pezina yang mencari rizki dengan dengan menjajakan kemaluannya tidak diterima doanya. Walaupun do’a itu dipanjatkan ditengah malam, saat pintu-pintu langit dibuka. (Hadits masalah ini terdapat dalam shahihul jami’ : 2971)

Kebutuhan dan kemiskinan bukanlah suatu alasan yang dibenarkan syara’ sehingga seseorang boleh melanggar ketentuan dan hukum-hukum Allah. Orang Arab dulu berkata:

seorang wanita merdeka kelaparan

tetapi tidak makan dengan menjajakan kedua buah dadanya,

bagaimana mungkin dengan menjajakan kemaluannya.

Di zaman kita sekarang, segala pintu kemaksiatan di buka lebar-lebar. Setan mempermudah jalan (menuju kemaksiatan) dengan tipu dayanya dan tipu daya pengikutnya. Para tukang maksiat dan ahli kemungkaran membeo setan. Maka bertebarlah para wanita yang pamer aurat dan keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang diperintahkan agama. Tatapan yang berlebihan dan pandangan yang diharamkan menjadi fenomena umum. Pergaulan bebas antara laki-laki dengan perempuan merajalela. Rumah-rumah mesum semua laku. Demikian pula dengan film-film yang membangkitkan nafsu hewani. Banyak orang-orang melancong ke negeri-negeri yang menjanjikan kebebasan maksiat. Disana-sini berdiri bursa sex. Pemerkosaan terjadi di mana-mana. Jumlah anak haram meningkat tajam. Demikian halnya dengan aborsi (pengguguran kandungan) akibat kumpul kebo dan sebagainya.

Ya Allah, kami mohon padaMu, bersihkanlah segenap hati kami dan pelihara serta bentengilah kemaluan dan kehormatan kami. Jadikanlah antara kami dengan hal-hal yang diharamkan dinding pembatas. Hanya kepadamulah kami mengadu…..Laa khawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.



Read More......

Syirik

Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa yang paling besar (tiga kali) ? mereka menjawab : ya, wahai Rasulullah ! beliau bersabda : menyekutukan Allah“ (muttafaq ‘alaih, Al Bukhari hadits nomer : 2511)

Setiap dosa kemungkinan diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, kecuali dosa syirik, ia memerlukan taubat secara khusus, Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya (An Nisa : 48)

Di antara macam syirik adalah syirik besar. Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan, jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka.


Di antara kenyataan syirik yang umum terjadi di sebagian besar negara-negara Islam adalah:

Menyembah Kuburan

Yakni kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia bisa memenuhi hajat, serta bisa membebaskan manusia dari berbagai kesulitan. Karena kepercayaan ini. mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Al Isra’ :23)

Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang shaleh, atau lainnya untuk mendapatkan syafaat atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An Naml : 62)

Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ketika melakukan sesuatu kesalahan, dalam setiap situasi sulit, ketika di timpa petaka, musibah atau kesukaran hidup.

Di antaranya ada yang menyeru : “ ahai Muhammad.” Ada lagi yang menyebut :“Wahai Ali”. Yang lain lagi menyebut : “Wahai Jailani”. Kemudian ada yang menyebut : “Wahai Syadzali”. Dan yang lain menyebut : “Wahai Rifai. Yang lain lagi : “Al Idrus sayyidah Zainab, ada pula yang menyeru : “Ibnu ‘Ulwan dan masih banyak lagi. Padahal Allah telah menegaskan:

“Sesungguhnya orang-orang yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu” (Al A’raaf : 194)

Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, lalu mengusapkannya ke bagian-bagian tubuhnya. Mereka juga menciumi pintu kuburan tersebut dan melumuri wajahnya dengan tanah dan debu kuburan. Sebagian bahkan ada yang sujud ketika melihatnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu’, merendahkan dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat mereka. Ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru : Ya sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka”. (Al Ahqaaf : 5)

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah niscaya akan masuk neraka (HR Bukhari, fathul bari : 8/176)

Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan, sebagian lagi membawa buku yang berjudul : Manasikul hajjil masyahid (tata cara ibadah haji di kuburan keramat). Yang mereka maksudkan dengan masyahid adalah kuburan kuburan para wali. Sebagian mereka mempercayai bahwa para wali itu mempunyai kewenangan mengatur alam semesta, dan mereka bisa memberi madharat dan manfaat. Padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya” (Yunus : 107)

Bernadzar Untuk Selain Allah

Termasuk syirik adalah bernadzar untuk selain Allah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang bernadzar memberi lilin dan lampu untuk para ahli kubur.

Menyembelih Binatang Untuk Selain Allah


Termasuk syirik besar adalah menyembelih binatang untuk selain Allah.padahal Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” ( Al Kutsar : 2)

Maksudnya berkurbanlah hanya untuk Allah dan atas namaNya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR Muslim, shahih Muslim No : 1978)

Pada binatang sembelihan itu terdapat dua hal yang diharamkan.

Pertama : penyembelihannya untuk selain Allah, dan kedua : penyembelihannya dengan atas nama selain Allah. Keduanya menjadikan daging binatang sembelihan itu tidak boleh dimakan. Dan termasuk penyembelihan jahiliyah -yang terkenal di zaman kita saat ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin [lihat Taisirul Azizil Hamid, hal : 158]

Menghalalkan Apa Yang Diharamkan Oleh Allah Atau Sebaliknya

Di antara contoh syirik besar -dan hal ini umum dilakukan– adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Atau kepercayaan bahwa seseorang memiliki hak dalam masalah tersebut selain Allah Subhanahuwa ta’ala. Atau berhukum kepada perundang-undangan jahiliyah secara sukarela dan atas kemauannya. Seraya menghalalkannya dan kepercayaan bahwa hal itu dibolehkan . Allah menyebutkan kufur besar ini dalam firmanNya :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. (At Taubah : 31)

Ketika Adi bin hatim mendengar ayat tersebut yang sedang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ia berkata : “ orang-orang itu tidak menyembah mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan tegas bersabda : “Benar, tetapi meraka (orang-orang alim dan para rahib itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya halal. Dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan oleh Allah, sehingga mereka menganggapnya sebagai barang haram, itulah bentuk ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib [Hadits riwayat Al Baihaqi, As sunanul Kubra : 10/ 116, Sunan At Turmudzi no : 3095, Al Albani menggolongkannya dalam hadits hasan. lihat ghayatul muram: 19].

Allah menjelaskan, di antara sifat orang-orang musyrik adalah sebagaimana dalam firmanNya :

“Dan meraka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)”. (At Taubah : 29).

“Katakanlah : Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah : Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan kedustaan atas Allah? (Yunus : 59).

--------------------------

Sihir, Perdukunan dan Ramalan

Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat (Al Baqarah : 102).

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha : 69)

Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan, “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah : 102).

Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.

Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.

Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.

Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)

Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).

Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.

Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah – Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:

“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : “ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Allah berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).

Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun.

Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.

Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan sesuatu yang diharamkan.

Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan barang yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam :

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].

Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.

-----------------------------------

Read More......

Pemerataan Pangan

Kelingan jaman cilikanku, wektu iku aku isih tunggal omah karo Pak Tuwo (simbah) sing gaweane saben dina deres klapa kanggo gawe gula jawa. Neng mah siji iku urip bareng-bareng Pak-Mbok Tuwo (simbah), Bapak-Simbok karo anak-anake (aku + adhiku 2), bulikku sing durung rabi.
Jaman susah... mangan wae dijatah. Menawa liwet wis mateng, enggal wae dikedhuk banjur ditaningi neng piring, sithik-sithik sing penting rata. Tanduk? wah..... ora ana!!!! Liwet mung pas kanggo mangan ganjel weteng thok ora wareg mung wis ngrasakke sega.



Jangan saben dinane mung jangan bening, ampase sithik duduhe akeh. Lawuh tempe-tahu iku wis luwih saka cukup. Kala-kala ndadar endhog loro, endhoge dibumboni uyah lan bawah sing rada akeh jare gen nglawuhi. Yen endhog wis nyemplung neng wajan, wajan banjur diangkat lan digoyang supaya endhog dadare dadi gedhe jembar. Yen wis mateng banjur diiris didum.
Bareng saiki....... candakono dewe........

Read More......

8/14/2008

Plupuh

Alamat
Jl. Raya Sambirejo No. 1 Plupuh Sragen

Telp
(0271)7007025

Email
plupuh@sragenkab.go.id

PEMERINTAHAN UMUM

Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang baik (Good Governance), bersih dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, maka pemerintah Kecamatan Plupuh bertekad meningkatkan mutu Pelayanan publik (Public service) hal ini merupakan implementasi pelimpahan sebagian kewenangan dari Bupati Sragen dengan SK. No. 503/186-03/2001, tgl.16-8-2001. Pelayanan prima (excellent service) dapat dirasakan oleh masyarakat karena prosesnya cepat, mudah dan murah. Sebagai contoh proses penerbitan KTP hanya membutuhkan waktu 5 (lima) menit dengan biaya Rp. 5.000,-.


Pembangunan Jalan

Sebagian besar jalan di wilayah Kec. Plupuh sudah di aspal dan dicor beton. Pelaksanaan pembangunan tersebut dibiayai baik dari APBD II maupun swadaya masyarakat. terdapat 17 jembatan yang menghubungkan Kec. Plupuh dengan daerah sekitarnya.

Panjang Jalan Aspal

55 Km

Panjang Jalan Cor/Beton

43,5 Km

PKBM ( Pemberdayaan Keluarga Berencana Masyarakat )


SARANA PEREKONOMIAN

Di Kecamatan Plupuh terdapat sarana pendukung perekonomian yang terdiri dari : 5 pasar umum, 74 Toko, 120 Kios, 86 Warung, 2 BUUD/KUD, 20 Kosipa, 3 Badan Kredit, 258 Lumbung Desa. Sarana pendukung lainnya di bidang Industri Kecil dan Industri Rumah Tangga. Untuk Industri Kecil terdapat 14 Usaha kecil yang mempunyai 25 tenaga kerja laki-laki dan 62 tenaga kerja perempuan. Untuk Industri Rumah Tangga terdapat 3.546 Usaha yang mempunyai 52 tenaga kerja laki-laki dan 3.490 tenaga kerja perempuan.



GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI
Letak Wilayah

. Luas wilayah Kecamatan Plupuh adalah 4.836 Ha, terdiri dari 16 Desa dan 169 Dukuh, dan terbagi dalam 264 RT.
dengan jumlah penduduk akhir Juni 2007 52.359 jiwa ( L : 26.261 dan P : 26.098).

Kecamatan Plupuh terletak di sebelah barat ibu kota Kabupaten Sragen dengan jarak
+ 40 Km, dari Kota Solo + 15 Km .

- Luas Wilayah Kecamatan Plupuh yang terbagi dalam luas tanah sawah menurut irigasi adalah :
* Sawah Teknis : 370 Ha
* Sawah 1/2 Teknis : 278,59 Ha
* Sederhana : 432,48 Ha
* Sawah tadah hujan : 1.526,91 Ha
* Pekarangan / Bangunan : 1.126,88 Ha
* Tegal / Kebun : 894,27 Ha
* Lainnya : 206,63 Ha

Adapun Batas-batas Wilayah Kecamatan adalah sebagai berikut: :

- Sebelah Utara

Kecamatan Tanon

- Sebelah Timur

Kecamatan Masaran

- Sebelah Selatan

Kabupaten Karanganyar

- Sebelah Barat

Kecamatan Gemolong


Pertanian Tanaman Pangan

1.Padi Organic
5,8 ton/Ha Luas lahan 55,9 Ha

Desa Karangwaru, Sambirejo, Gentan, dari, Karanganyar,Somomorodukuh, Manyarejo, Gedongan, Pungsari, Jabangan.

2.Jeruk Besar
10.000 Batang Pohon jeruk hasilnya _+ 40/buah batang luas lahan 99 Ha

Desa plupuh dari , Gentan, Banaran, Karungan

3.Cabe Merah
117 Ton, Luas lahan 6,5 Ha

Desa Plupuh, dari, Gentan, Banaran, Karungan

4.Pupuk Organik
300 Ton/Tahun

Desa Karanganyar, Somomorodukuh, Gentan, Banaran

5.Jagung
3.446 Ku, Luas Panen 87 Ha

Desa Jembangan, Pungsari, Manyarejo, Gedongan, Cangkol, Somomorodukuh

6.Ubi Kayu
561 Ton, Luas Panen 36 Ha

Desa Manyarejo, Gedongan, Somomorodukuh, Karangwaru

7.Kacang Tanah
19.748 Ku, Luas Panen 1.682 Ha

Desa Jembangan, Sidokerto, Jabung, Pungsari, Manyarejo, Gedongan, Plupuh, Cangkol, Somomorodukuh, Sambirejo, Dari, Karanganyar, Gentan Banaran, Karungan, Karangwaru, Ngrombo

8.Mangga
4.796 Ku, Luas Panen 13.012 Pohon

Desa Jembangan, Sidokerto, Jabung, Pungsari, Manyarejo, Gedongan, Plupuh, Cangkol, Somomorodukuh, Sambirejo, Dari, Karanganyar, Gentan Banaran, Karungan, Karangwaru, Ngrombo

9.Sawo
47 Ku, Luas Panen 156 Pohon

Desa Pungsari, Manyarejo, Gedongan, Plupuh, Cangkol, Somomorodukuh, Karanganyar, Gentan Banaran, Karungan, Karangwaru, Ngrombo

10.Blimbing
81 Ku, Luas Panen 405 Pohon

Desa Jembangan, Sidokerto, Jabung, Pungsari, Manyarejo, Gedongan, Plupuh, Cangkol, Somomorodukuh, Sambirejo, Dari, Karanganyar, Gentan Banaran, Karungan, Karangwaru, Ngrombo

11.Pepaya
326 Ku, Luas Panen 986 Pohon

Desa Jembangan, Sidokerto, Jabung, Pungsari, Manyarejo, Gedongan, Plupuh, Cangkol, Somomorodukuh, Sambirejo, Dari, Karanganyar, Gentan Banaran, Karungan, Karangwaru, Ngrombo

Read More......

Merubah Google

Google, ya hampir semua orang tahu dengan google.. mesin cari populer kepunyaan Larry Page dan Sergey Brein inimem iliki latar halaman bernuansa putih sederhana plus logo “Google” di atas kotak mesin carinya.
Jika Anda boring dengan tampilan logo tersebut, Anda bisa membuat halaman seperti Google dengan nama Anda. Caranya sangat mudah. Cukup klik-klik saja logo dan style yang diinginkan, dalam sekejap Anda akan bisa memiliki halaman mesin cari seperti Google dengan nama Anda. Simak langkahnya:
1. Buka situs http://www.funnylogo.info/create.asp atau langsung www.007google.com
2. Masukan nama yang Anda inginkan pada situs tersebut.
3. Tentukan style tulisan yang diinginkan, misal: Google Style.
4. Klik “Create My Search Engine”.
5. Setelah itu akan muncul tampilan “Situs Google” dengan logo yang kita inginkan.


Untuk membuat tampilan tersebut menjadi halaman default ketika Anda membuka browser, copy alamat yang tertera pada Address.
Untuk Browser Internet Explorer (IE):
1. Klik menu Tools - Internet Options
2. Pilih tab General, lalu ubah field Home Page dengan alamat tersebut.
Untuk Browser Mozila:
1. Klik menu Tools - Options
2. Pilih tab Main, lalu ubah field Home Page dengan alamat tersebut.
3. Pada field When Firefox starts, pilih settingan Show my home page, lalu klik OK.
Setelah semua perintah anda selesaikan, coba buka browser anda dan pasti tampilan Google sdh berubah sesuai dengan keinginan anda


Read More......

Demi Calon Maratuwa

Crita konyol iki dakalami dhewe nalika aku isih pacaran karo Tw, ya bojoku saiki.
Wektu kuwi lebaran taun 1999 aku ngapeli Tw, mesisan "memperkenalkan diri" karo bapak lan ibune. Sing nemoni mung ibune Tw, dene bapake lagi ibut neng pekarangan ngomah, nuruti putune sing jenenge F (putrane mbakyune Tw) kang lagi mopo njaluk digawekake mercon bumbung.
Dhasar aku hobi merconan, enggal wae aku marani bapake Tw. Sawise kenalan aku omong, "Sampun pak, mangke kula mawon ingkang damel. Kuia ahli kok damel mercon bumbung, kandhaku umuk. Pikirku, iki kalodhangan apik kanggo ngrogoh atine bapake Tw. Yach, demi calon maratuwa, rekasa thithik rak ora dadi apa ta?
Arit lan graji dipasrahake aku, banjur aku karo F ibut gawe ngethoki pring. Ora nganti seprapat jam mercon wis dadi. Gandheng nganggo karbit mbebayani tur kudu tuku, aku usul mercon bumbunge diisi bensin wae. Senajan nganggo bensin, yen wis panas unine ya bisa seru kok. F setuju, mula aku banjur nyedhot bensin saka tanki sepedhamotorku. Ngirit lik!!


Sawise takiseni bensin, mercon taksumet. Ning mung plempus-plempus ora gelem njeblug. Mula pucuk bolonganedakinguk, mbokmenawa rose ana kang bumpet. Lha nengahi aku nginguk bolongan, tanpa dakngerteni si F nyedhakake geni menyang bolongan nggon bensin, lan.. bummm! Mercon njeblug seru.
Aku krasa hawa panas nyamber raiku... wusssh! Bisa dakendhani, nanging ya Allah... alis, idep, kumisku sing nembe thukul, Ian saperangan rambutku sisih ngarep kebacut kobong dadi awu! Takdemek padha muprul!
Aku bali menyang ruwang tamu kanthi praupan ingah-ingih. Lan mesthi bae, bapak lan ibune Tw, klebu yayangku Tw, ngguyu kepingkel-pingkel weruh rupaku malih kaya Gogon Srimulat. Isinku jiaaann.... puooolll! -
Ealah, pengalaman jaman bujang. Untunge merga peristiwa mercon bermasalah mau sesambunganku karo Tw lan kulawargane Tw dadi tambah raket, lan temahan Tw dadi bojoku nganti saiki. Kepriyea, aku kudu matur nuwun marang F sing wis ngobong rambutku.
Salam kanggo F, kapan ngobong brengose Om maneh???


KAPOKMU KAPAN!
Paklikku Is nembe mbangun omah rada gedhe. Papane ing pojok protelon dalan lan rada misah karo omah-omah liyane. Sedina sawise dienggoni, Bulik sambat merga kamar mburi cedhak dhapur temboke yen didemok nyetrum. Dites-pen murub, dadi cetha yen ana listrike. Kamar mburi pancen umes (teles) terus, merga jogane nyumber. Mbokmenawa ana kabel listrik sing bocor, dadi temboke yen didemok sedhut-sedhut.
Awan kuwi Paklik lagi ibut resik-resik nalika ana wong tuwa macak kejawen uluk salam.
Durung-durung wis aweh katrangan yen omahe Paklik ana reregede, cethane ana lelembute. Wong mau kandha saguh mbuwang/ ngresiki angger diopahi Rp 500 ewu.
Paklik mesthi wae sujana wong mau apusapus, merga paklik dhewe elek-elek ya paranormal. Mula wong mau banjur "dikerjain". "Enggih, Pak. Kamar wingking pancen enten lelembute. Mangga mang diresiki, ning nek mboten resik mboten kula bayar, nggih!" ngono ujare Paklik.
Wong mau manthuk, terus diterke nyang kamar mburi. Tekan kono sila ngedhepes karo ngobong dupa. Ora suwe banjur kliling ndemoki tembok kamar. Ya nalika ndemoktembok kuwi, dheweke banjur ginjal-ginjal. "Auw, adhuh... ee.. adhuuuhh...!!" ujare karo ngipatngipatake lengen sing krasa keju.
Ora suwe wong mau metu kanthi praupan pucet, "Wah, Mas, lelembute kiyat sanget, kula boten sagah ngresiki. Pun pareng mawon, kandhane kanthi praupan keweden, banjur nggendring lunga embuh menyang ngendi.
Paklik mung ngingeti saka kadohan karo ngguyu ngakak, "Kapokmu kapan, salahe dhewe ngapusi uwong! Ngendi ana dhukun menang karo setrum!" ujare Paklik.
Apa tumon, setrum kok dikira "lelembut kuwat"??


MANTENE MLAYU
Donya pancen ana-ana bae. Akeh perkara kang njalari wong padha ngisis untu alias ngguyu. Contone kaya lelakone M, kancaku kang lagi bae dadi manten. Ngene critane:
Wektu kuwi M lagi dilungguhake kwade sarimbit karo sang prameswari kang jenenge N. Pasamuwane klebu rame, malah nganggo nanggap campursari barang. Tamune uga an' der ngebaki terop.
Acara lumaku rancag. Nanging ngarepake acara ular-ular, ndadak ana kang aneh. Praupane M sajak mrecing-mrecing, kringete gobyos lan lungguhe katon goreh. M uga katon pucet kaya wong lara.
Jenenge lagi dadi raja sedina, senajan weruh bojone patrape sajak nganehanehi, N mung meneng wae. Mung nalika dijiwit, M mringis karo ndemek
wetenge. N banjur mudheng yen wetenge M lara.
Cilakane sing kajibah paring ular-ular manten ora tanggap sasmita. Kepara wejangane nglawer dawa banget. Nganti meh sakjam olehe plodrah durung ana tandha-tandha arep dirampungi.
"Sesomahan kuwi duwekku ya duwekmu, duwekmu ya duwekku.. Rak ngoten ta Mas M?" pitakone sing paring ular-ular marang M.
M ora manthuk ora apa, malah mak jranthal... mlayu nggendring mlebu ngomah! Let sedhela manten putri nututi. Ora wurung wong sak kalangan kagete kepati-pati. Kabeh ngadeg, nguwasi playune penganten kanthi praupan kebak pitakon. Ana apa?? Malah sing paring ular-ular enggal nyelehake mik sing dicekel. Mbokmenawa mikir, apa ana tembungku kang nyenggol marase penganten kakung?
Kulawarga manten kakung enggal mbujung playune M. Udakara limang menit, sing mbujung padha bali menyang kalangan karo mesam-mesem, banjur bisik-bisik karo pranatacara. Pranatacara ngguyu, banjur..
"Nyuwun gunging pangaksami dhumateng para lenggah ingkang dahat kinurmatan, wonten gangguwan sekedhik. Manten kakung kepeksa nilar subasita supe ngugemi tata trapsila medal saking pawiwahan, jalaran kesesa badhe lumebet dhateng pertapan wingking griya..."
Bareng dijlentrehake yen "pertapan wingking griya" kuwi WC, wong sak kalangan sakala ngguyu ngakak ora bisa dipenggak. Malah nalika M lan N bali mlebu kalangan sarimbit, para tamu surak mawurahan ambata rubuh... "Wis lega, ya?" cluluke bocah enom-enom. M mung pringas-pringis ngempet isin.
Apa tumon, manten lagi diular-ulari kok mbradhat mlayu merga selak kebelet nyang WC! Lha ning yen sing siji iki wis mblenet, sapa wonge sing bisa ngempet? He.. he...


Read More......

8/12/2008

Sebagian Dari Fungsi Keyboard

Berikut shortcut keyboard yang sering digunakan:
1.[Ctrl] [B]
Membuat text cetak tebal
2.[Ctrl] [I]
Membuat text miring
3.[Ctrl] [U]
Membuat text bergaris bawah
4.[Ctrl] [Shift] [>]
Memperbesar ukuran font (tekan tombol [>]berulangulang
tanpa melepas tombol [Ctrl] [Shift])
5.[Ctrl] [Shift] [] berulang-ulang tanpa melepas tombol [Ctrl] [Shift])
6.[Ctrl] [J]
Membuat paragraf rata kanan dan rata kiri

7.[Ctrl] [L]
Membuat paragraf rata kiri
8.[Ctrl] [E]
Membuat paragraf di tengah
9.[Ctrl] [R]
Membuat paragraf rata kanan
10.[Ctrl] [H]
Replace
11.[Ctrl] [A]
Menyeleksi semua object di area kerja
12.[Ctrl] [C]
Copy
13.[Ctrl] [X]
Cut
14.[Ctrl] [V]
Paste
15.[Ctrl] [O]
Membuka dokumen tersimpan
16.[Ctrl] [N]
Membuka lembar kerja baru
17.[Ctrl] [P]
Membuka kotak dialog Print untuk mencetak dokumen
18.[Ctrl] [S]
Save
19.[F12]
Save As..
20.[F5] atau [Ctrl] [G]
Menampilkan kotak dialog Go To untuk menuju halaman tertentu
21.[Ctrl] [F]
Menampilkan kotak dialog Find
22.[Ctrl] [Z]
Undo
23.[Ctrl] [Y]
Redo
24.[Ctrl] [à]
Melompati sebuah kata di depannya
25.[Ctrl] [ß]
Melompati sebuah kata dibelakangnya
26.[Ctrl] [K]
Menampilkan kotak dialog Hyperlink untuk menghubungkan dokumen dengan file/dokumen lain
27.[Home]
Menuju ke posisi awal suatu baris
28.[End]
Menuju ke posisi akhir suatu baris
29.[Alt] [Tab]
Membuka halaman lain yang terbuka secara cepat
30.[Alt] [O] [P]
Membuka kotak dialog paragraf
31.[Alt] [O] [F]
Membuka kotak dialog Font
32.[F7]
Membuka kotak dialog Spelling and Grammar untuk memeriksa susunan kalimat dan ejaan sesuai dengan kamus yang telah disediakan.
33.[Alt] [F] [C]
Menutup dokumen yang sedang terbuka tanpa keluar dari microsoft word.
Sumber :
www.ndesonet.wordpress.com

Read More......

Manten

Adiku dadi manten

Titi laksana pahargyan ingkang katindakaken ing madyaning bebrayan Jawi asring dipun pandhegani dening juru pranata adicara. Jejibahanipun wiwit saking ngadani pambuka, wosing gati, selingan peprenesan, ngantos dumugi panutup. Ing pangajab rancanging acara ingkang sampun karumpaka saged lumampah kanthi gancar lancar. Wondene priyagung ingkang atur pambagya raharja jamak limrah minangka dados badan wakil kulawarga. Sesorah ingkang dipun andharaken dening pamedhar sabda, kathah-kathahipun kasalira dening sesepuh utawi para winasis.

PRANATACARA

Tresna asih Pangeran Yehuwah mugi tansah manunggal ing kita. [pasrah lamaran]

Nuwun, kulanuwun. Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautamen, ingkang pantes pinundhi-pundhi saha kinabekten. Para tamu kakung sumawana putri ingkang dahat kalingga murdaning akrami.

Kanthi pepayung budi rahayu saha hangunjukaken raos suka syukur dhumateng Pangeran, mugi rahayuha sagung dumadi tansah kajiwa lan kasalira dhumateng panjenengan sadaya hangluberna dhumateng kawula.

Amit pasang aliman tabik, mugi tinebihna ing iladuni myang tulak sarik, dene kawula cumanthaka sowan mangarsa hanggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan. Inggih awratipun hamestuti jejibahan luhur, kawula minangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan.

Panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa ingkang pantes katuran sagunging pakurmatan, kawula minangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan, ingkang sepisan: ngaturaken salam taklim mugi katur wonten ngarsa panjenengan, sumarambah para kulawarga samudayanipun.

Jangkep kaping kalih, ing nguni sampun wonten pirembagan ing antawisipun Bapa X sekalihan ingkang hanggadahi putra kakung kekasih pun Bagus Santo kaliyan Bapa Y sekalihan garwa ingkang hanggadahi putra sesilih Rr Ratih. Gumolonging pirembagan nedya hangraketaken balung pisah daging arenggang, bebasan ngebun-ebun enjang anjejawah sonten, ndhodhok lawang sumedya nginang jambe suruhe, kanthi atur mekaten karana sampun jumbuh anggenipun pepetangan saha sampun manunggal cipta, rasa miwah karsa, ingkang punika saking agenging manah panjenenganipun Bapa X sekalihan anggenipun katampi panglamaranipun pramila ing kalenggahan punika ngaturaken sarana miwah upakarti minangka jangkeping tatacara salaki rabi. Wondene ingkang badhe kaaturaken wonten ngarsanipun Bapa Y sekalihan garwa inggih punika:
Sanggan saha majemuk ingkang sampun wonten wujudipun, kanthi pangajabing sedya dadosa sarana sahipun sesanggeman miwah raketing kekadangan, saenggo mboten saged pisah salami-laminipun.
Kasoking katresnan Bapa X sekalihan dhumateng Bapa Y sekalihan garwa, ing mriki badhe ngaturaken malih ageman ingkang awujud rasukan sapengadhek, ing pangajab minangka agemanipun calon penganten putri.
Mboten kekilapan Bapa X sekalihan ngaturaken redana wujudipun arta, kenginga damel ngentheng-enthengi anggenipun Bapa Y sekalihan garwa netepi darmaning sepuh hamiwaha putra mahargya siwi.
Kejawi punika panyuwunipun Bapa X sekalihan, ing benjang menawi sampun dumugi titi wanci tumapaking gati, mugi calon penganten kaijabna saha kapanggihna anut satataning adat widhiwidana ingkang sampun lumampah wonten ing mriki.

Minangka pungkasaning atur, hambok bilih Bapa X sekalihan anggenipun ngaturaken sarana dalah upakarti wonten kekiranganipun, mawantu-wantu nyuwun agenging samodra pangaksami. Semanten ugi kawula minangka sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan, menawi wonten gunyak-gunyuking wicara cawuh kliruning basa kisruhing paramasastra miwah kiranging subasita ingkang singlar ing reh tata krama, kawula nyuwun sihing samodra pangaksama. Nuwun.




Tresna asih Gusti Ingkang Maha Suci mugi tansah manunggal ing kita. [nampilamar]

Nuwun, kulanuwun. Dhumateng panjenenganipun Bapa A ingkang piniji hangembani wuwus, mangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan ingkang pantes katuran sagunging pakurmatan.

Kanthi linambaran trapsila ing budi miwah ngaturaken sewu agunging aksama, inggih awit saking mradapa keparengipun Bapa Y sekalihan garwa, kawula piniji minangka talanging basa, kinen hanampi menggah wosing gati lekasing sedya ingkang luhur saking panjenenganipun Bapa X sekalihan lumantar panjenenganipun Bapa A.

Minangka purwakaning atur, ngaturaken sugeng rawuh saha ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindhan dene lampah panjenengan sampun kasembadaning karya, kanthi wilujeng nirbaya nirwikara boten wonten pringga bayaning marga.

Sanget katampi kanthi bingahing manah, atur salam taklim saking panjenenganipun badhe kadang besan lumantar panjenengan kawula tampi, sa lajengipun dhumawaha sami-sami.

Wondene atur pasrah paringipun sarana jejangkeping salaki rabi, kawula tampi kanthi suka bingahing manah. Ing salajengipun, mangke badhe kawula aturaken wonten ngarsanipun Bapa Y sekalihan garwa. Mboten kekilapan panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa namung ngaturaken agenging panuwun menggah sadaya peparinganipun badhe kadang besan sutresna, pratandha yekti kasoking katresnan dhumateng Bapa X sekalihan, mugi dadosa sarana raketing kekadangan, sami-sami netepi darmaning sepuh anggennya ngentas pitulus putra pinaringan raharja mulya.

Namung semanten panampi saking Bapa Y sekalihan garwa lumantar kawula, ngaturi uninga bilih menawi sampun dumugi wahyaning mangsa kala tumapaking ijab utawi panggih, kasuwun panjenenganipun Bapa X sekalihan wontena suka lilaning penggalih hanjenengi paring pudyastuti murih rahayuning sedya.

Minangka pungkasaning atur, hambok bilih wonten kuciwaning bojakrami anggen Bapa Y sekalihan garwa hanampi menggah ing rawuhipun panjenengan sami, mugi lumeberna sih samudra pangaksami. Semanten ugi, kawula minangka talanging basa, hambok bilih wonten gunyak-gunyuking wicara miwah kiranging subasita ingkang singular ing reh tata krama, kupat janure klapa menawi lepat nyuwun pangaksama. Nuwun.


Tresna asih Gusti Ingkang Maha Suci mugi tansah manunggal ing kita. [pranatacara]

Nuwun, kulanuwun. Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautamen, ingkang pantes pinundhi-pundhi saha kinabekten. Punapa dene panjenenganipun para tamu kakung sumawana putri ingkang dahat kalingga murdaning akrami.

Amit pasang aliman tabik, mugi tinebihna ing iladuni myang tulak sarik, dene kula cuman-thaka sowan mangarsa hanggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan. Kula piniji hanjejeri minangka pangendaliwara keparenga hambuka wiwaraning suka wenganing wicara dwaraning kandha, saperlu mratitisaken murih rancaking titilaksana adicara pawiwawahan prasaja ing ratri kalenggahan punika.

Sumangga kula derekaken sesarengan manungku puja-puji-santhi wonten ngarsaning Gusti Ingkang Maha Suci, ingkang sampun kepareng paring rahmat lan nikmat gumelaring alam agesang wonten madyaning bebrayan agung. Katitik rahayu sagung dumadi tansah kajiwa kasalira dhumateng panjenengan sadaya dalasan kawula, saengga kita saged hanglonggaraken penggalih hamenakaken wanci sarta kaperluan rawuh kempal manunggal ing pawiwahan punika, saperlu hanjenengi sarta paring berkah pangestu dhumateng Bapa Y sakulawangsa anggenipun hanetepi dharmaning sepuh hangrakit sekar cepaka mulya hamiwaha putra mahargya siwi, tetepa winengku ing suka basuki.

Para tamu kakung sumawana putri, wondene menggah reroncening tata adicara ingkang sampun rinancang rinacik rinumpaka dening para kulawangsa nun inggih:
Eko laksitagati purwakaning pahargyan inggih sowanipun putra temanten putri mijil saking tepas wangi manjing ing madyaning sasana rinengga
Dwi laksitagati rawuh & jengkaripun putra temanten kakung tumuju dhateng madyaning sasana wiwaha
Tri laksitagati pasrah-pinampi putra temanten kakung
Catur laksitagati dhaup panggihing putra temanten anut satataning adat widhiwadana ingkang sampun sinengker tumunten kalajengaken upacara krobongan
Panca laksitagati nderek mangayuhbagyahipun kadang besan dhateng ingkang hamengku gati ing sasana wiwaha tumunten kalajengaken upacara sungkem
Sad laksitagati atur pangbagyaharjo panjenenganipun ingkang hamengku gati katur sagung para tamu
Sapta laksitagati lengseripun temanten sarimbit saking madyaning sasana wiwaha manjing ing sasana busana, saperlu rucat busana kanarendran santun busana ksatrian
Hasta laksitagati sowan malihipun temanten sarimbit ngabyantara para tamu saperlu nyenyadhang pudyastawa murih widadaning bebrayan
Nawa laksitagati paripurnaning pahargyan inggih jengkaripun temanten sarimbit saking madyaning sasana rinengga tumuju dhateng wiwaraning pawiwahan.

Mekaten menggah reroncening tata adicara pawiwahan ing ratri kalenggahan punika. Salajengipun, keparenga para tamu pinarak wonten ing palenggahan kanthi mardu-mardikaning penggalih, miwah kawula derekaken hanyrantos tumapaking tata adicara sinambi nglaras rarasing gending2 saking Paguyuban Karawitan Pranatalaras ingkang dipangarsani panjenenganipun Bapa Cahyono.

Nuwun, nuwun, matur nuwun.
Tresna asih Gusti Ingkang Maha Suci mugi tansah manunggal ing kita.
[pasrah penganten]

Nuwun, kulanuwun. Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautamen, ingkang pantes pinundhi-pundhi saha kinabekten. Punapa dene panjenenganipun para tamu kakung sumawana putri ingkang dahat kalingga murdaning akrami.

Kanthi linambaran pepayung budi rahayu saha hangunjukaken raos suka syukur dhumateng Gusti, mugi rahayuha sagung dumadi tansah kajiwa kasalira dhumateng kawula lan panjenengan sadaya.

Amit pasang aliman tabik, mugi tinebihna ing iladuni myang tulak sarik, dene kawula cumanthaka sowan mangarsa hanggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan. Inggih awratipun hamestuti jejibahan luhur kawula piniji minangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan [kawula kadhawuhan nglarapaken putra calon temanten kakung mugi katur panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa].

Panjenenganipun Bapa B ingkang jumeneng hangembani wuwus minangka sulih sarira saking panjenenganipun Bapa Y sekalihan ingkang winantu sagunging pakurmatan. Wondene menggah wigatosing sedya sowan kawula wonten ngarsa panjenengan, ingkang sepisan: ngaturaken sewu agenging kalepatan dene panjenenganipun Bapa X boten saged hanindakaken piyambak masrahaken putranipun calon temanten kakung, kapeksa namung saged ngaturaken salam taklim Bapa X ingkang lumantar kawula mugi katura ing panjenenganipun. Sanget ing pamujinipun, bilih anggenipun mengku karya hanetepi darmaning sepuh hangrakit sekar cepaka mulya hamiwaha putra mahargya siwi, tetepa winengku ing suka basuki.

Jangkep kaping kalih, rehning putra calon temanten kakung pun Bagus Santo, atmaja kakung saking Bapa X sekalihan ingkang pidalem ing Salatiga sampun kelampahan dhaup suci kaliyan Rara Ratih, Kenya siwi saking panjenenganipun Bapa Y sekalihan, kala wau dinten …………………., surya kaping ………………………, wanci tabuh ……………, mapan ing ………………………….., kanthi nirbaya nir wikara boten wonten alangan satunggal punapa.

Sarehning sampun ndungkap titiwanci tumapaking gati, pramila calon temanten kakung kawula pasrahaken, mugi tumunten katindakna dhaup panggihing temanten. Kawula sapangombyong tansah jumurung ing karsa, sinartan puji donga mugi Gusti tansah ngijabahi dhumateng temanten sarimbit, anggenipun amangun brayat enggal, tansah manggih guyup rukun, atut runtut, ayem tentrem, rahayu ingkang tinuju, bagya mulya ingkang sinedya.

Dene ingkang wekasan, sasampunipun paripurnaning pahargyan, kawula sarombongan pangombyong temanten kakung, keparenga nyuwun pamit saha nyuwun pangestu, mugi-mugi lampah kawula sarombongan manggih wilujeng kalis saking pringga bayaning marga. Salajengipun, hambok bilih anggen kawula hanjejeri minangka talanging basa wonten gunyak-gunyuking wicara, kiranging subasita ingkang singular ing reh tata karma, kawula tansah nyuwun lumunturing sih samodra pangaksama.

Nuwun.




Tresna asih Gusti Ingkang Maha Suci mugi tansah manunggal ing kita.
[nampi penganten]

Dhumateng panjenenganipun Bapa A ingkang piniji hangembani wuwus, mangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan garwa ingkang pantes katuran sagunging pakurmatan.

Kanthi linambaran trapsila ing budi rahayu miwah ngaturaken sewu agunging aksama, inggih awit mradapa keparingipun Bapa Y sekalihan, kawula piniji minangka talanging basa, kinen hanampi menggah wosing gati lekasing sedya ingkang luhur saking panjenenganipun Bapa X sekalihan lumantar panjenganipun Bapa A.

Minangka purwakaning atur, ngaturaken sugeng rawuh saha ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa papindhan dene lampah panjenengan sampun kasembadaning karya kanthi wilujeng nirbaya nirwikara boten wonten pringga bayaning marga.

Sanget ketampi kanthi bingahing manah, atur salam taklim saking panjenenganipun badhe kadang besan lumantar panjenengan kawula tampi, salajengipun dhumawaha sami-sami.

Wondene atur pasrah paringipun sarana jejangkeping salaki rabi, kawula tampi kanthi suka bingahing manah, ing salajengipun mangke badhe kawula aturaken wonten ngarsanipun Bapa Y sekalihan garwa. Mboten kekilapan Bapa Y sekalihan namung ngaturaken agenging panuwun menggah sedaya peparinganipun badhe kadang besan sutresna, pratandha yekti kasoking katresnan dhumateng Bapa Y sekalihan, mugi dadosa sarana raketing kekadangan, sami-sami netepi darmaning sepuh anggennya ngentas pitulus putra pinaringan raharja mulya.

Namung semanten panampi saking Bapa Y sekalihan garwa lumantar kawula, ngaturi uninga bilih menawi sampun dumugi wahyaning mangsa kala tumapaking ijab/panggih, kasuwun panjenenganipun Bapa X sekalihan wontena suka lilaning penggalih hanjenengi paring pudyastuti murih rahayuning sedya.

Minangka pungkasaning atur, hambok bilih wonten kuciwaning bojakrami anggen Bapa Y sekalihan garwa hanampi menggah ing rawuh panjenengan sami, mugi lumeberna sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kawula minangka talanging basa, hambok bilih wonten gunyak-gunyuking wicara, kiranging subasita ingkang singular ing reh tata krama, kawula tansah nyuwun lumunturing sih samodra pangaksama.


Tresna asih Gusti Ingkang Maha Suci mugi tansah manunggal ing kita. [pambagyaharjo]

Nuwun, kulanuwun. Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautamen, ingkang pantes pinundhi-pundhi saha kinabekten. Punapa dene panjenenganipun para tamu kakung sumawana putri ingkang dahat kalingga murdaning akrami.

Amit pasang aliman tabik, mugi tinebihna ing iladuni myang tulak sarik, dene kula cuman-thaka sowan mangarsa hanggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan. Kula minangka talanging basa [duta saraya sulih sarira] saking panjenenganipun Bapa Y sekalihan kanthi suka bingahing manah ngaturaken pambagya wilujeng sarta agunging panuwun ingkang tanpa pepindhan katur sagung para tamu ingkang sampun kersa hangrawuhi pahargyan punika.

Sumangga kula derekaken sesarengan manungku puja-puji-santhi wonten ngarsaning Gusti Ingkang Maha Suci, dene hajatipun Bapa Y sekalihan anggenipun hamengku gati, ndaup-aken putranipun ingkang sesilih N sampun kalampahan dhaup kaliyan bagus M putra kakungipun Bapa X, rikala dinten …………….. surya kaping ……………… wanci tabuh ……………. wonten ing …………………….., kanthi wilujeng nir ing sambekala.

Kaleksananing pahargyan punika karana sih pambyantunipun para sanak kadang, pawong mitra, tangga tepalih saha para tamu ingkang sampun kepareng paring pisumbang awujud punapa kemawon, ingkang sanyata saged hangentengaken sesanggeman. Ingkang punika panjenenganipun Bapa Y sekalihan ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindhan. Mugi sih kadarman panjenengan sami dadosa sarana sih sutresna, saengga pikantuka leliru ingkang satraju miwah bebingah ingkang malimpah-limpah.

Bapa Y sekalihan neda sih panarima panjenengan sami, kersaa paring donga pamuji pangastuti. Mugi-mugi sri penganten sekalihan sageda ngleksanani kekudanganipun para pinisepuh, sageda atut runtut dumugining kaken kaken lan ninen ninen, rahayu widada kalis ing sambekala. Mugi-mugi sri penganten sekalihan enggal pinaringan momongan ingkang bekti dhumateng Gusti, rama ibunipun, lan para pinisepuhipun, sageda mikul dhuwur mendhem jero labuh labet dhateng negari lan bangsanipun murakabi dhumateng bebrayan agung.x

Minangka pungkasaning atur. Hambok bilih wonten kekiranganipun Bapa Y sekalihan anggen hanampi ing menggah rawuhipun panjenengan sami, mugi lumeberna sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kula minangka talanging basa, hambok bilih wonten gunyak-gunyuking wicara cawuh kliruning basa kisruhing paramasatra, wonten kiranging subasita ingkang singlar ing reh tata karma, kupat janure klapa menawi lepat nyuwun pangapura.

Rahayu, rahayu ingkang sarwi ginayuh. Nuwun



Tresna asih Gusti Ingkang Mahasuci mugi tansah manunggal ing kita sadaya.
[ngunduh manten]

Nuwun, kulanuwun. Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautamen, ingkang pantes pinundhi-pundhi saha kinabekten. Para tamu kakung sumawana putri ingkang dahat kalingga murdaning akrami.

Kanthi pepayung budi rahayu, saha hangunjukaken raos suka syukur dhumateng Gusti, mugi rahayuha sagung dumadi tansah kajiwa kasalira dhumateng kawula lan panjenengan sadaya.

Amit pasang aliman tabik, mugi tinebihna ing iladuni myang tulak sarik, dene kawula cumanthaka sowan mangarsa hanggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan. Inggih awratipun hamestuti jejibahan luhur kawula piniji minangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan, kawula kadhawuhan ngundhuh putra temanten putri mugi katur panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa.

Panjenenganipun Bapa B ingkang jumeneng hangembani wuwus minangka sulih sarira saking panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa ingkang winantu sagunging pakurmatan. Wondene menggah wigatosing sedya sowan kawula wonten ngarsa panjenengan, ingkang sepisan: ngaturaken sewu agenging kalepatan dene panjenenganipun Bapa X boten saged hanindakaken piyambak ngundhuh putra temanten putri, kapeksa namung saged ngaturaken salam taklim mugi katura ing panjenenganipun Bapa X ingkang lumantar kawula.

Jangkep kaping kalih, ing nguni sampun kadhaupaken Bagus Santo putra kakung Bapa X kaliyan Rr Ratih putra sesilih Bapa Y, rikala …………………………………………….. . Pramila ing kalenggahan punika, Bapa X ngaturaken angsal-angsal miwah upakarti minangka jangkeping tatacara salaki rabi.

Dhumateng panjenenganipun Bapa B dalah pangaraking ngundhuh temanten, katuran pinarak kanthi mardhika miwah hanjenengi sedaya adicara.

Minangka pungkasaning atur, hambok bilih wonten kekiranganipun Bapa X anggenipun ngaturaken angsal-angsal dalah upakarti, mugi lumeberna sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kula minangka talanging atur, hambok bilih anggen kula matur wonten kiranging subasita ingkang singlar ing reh tata krama, kupat janure klapa menawi lepat nyuwun pangapura.

Nuwun.

Tresna asih Pangeran Yehuwah mugi tansah manunggal ing kita sadaya.
[nampi ngunduh manten]

Nuwun, kulanuwun. Dhumateng panjenenganipun Bapa A ingkang piniji hangembani wuwus, mangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan garwa ingkang pantes katuran sagunging pakurmatan.

Kanthi linambara trapsila ing budi, miwah ngaturakan sewu agunging aksama, inggih awit mradapa keparengipun Y kaliyan garwa, kula Untung saking Rejomulyo Semarang, piniji minangka talanging basa, kinen hanampi menggah wosing gati lekasing sedya ingkang luhur saking panjenenganipun Bapa X sekalihan, lumantar panjenenganipun Bapa A.

Minangka purwakaning atur, ngaturaken sugeng rawuh saha ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindhan dene lampah panjengan sampun kasembadaning karya, kanthi wilujeng nirbaya nirwikara boten wonten pringga bayaning marga.

Sanget katampi kanthi bingahing manah, atur salam taklim saking panjenenganipun kadang besan lumantar panjenengan kula tampi, mugi dhumawaha sami-sami. Sadaya SIH pisumbang salajengipun bade kula aturaken wonten ngarsanipun Bapa Y sarimbit, mugi-mugi awit saking pangestunipun, sageda handayani anggenipun mengku karya.

Sadaya peparingipun kadang besan katampi. Semanten ugi, inggih ngundhuh manten katampi, kanthi suka renaning penggalih. Mugi-mugi anggenipun mbangun bale wisma enggal tansah manggih bagya mulya ingkang sinedya, rahayu ingkang tinuju, basuki ingkang kaesthi, miwah tansah gagah ingkang jinangkah.

Dhumateng panjenenganipun Bapa A dalah pangaraking ngundhuh temanten, katuran pinarak kanthi mardhika saperlu hanjenengi sedaya adicara.

Minangka puputing atur, menawi wonten kuciwaning boja krami, anggen kula hangacarani menggah ing rawuh panjenengan sami, mugi lumeberna sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kula minangka talanging basa, hambok bilih anggen kula matur wonten kiranging subasita ingkang singlar ing reh tata krama, kupat janure klapa menawi lepat nyuwun pangapura.

Nuwun.

PAWIWAHAN JUMENENG


Para tamu kakung miwah putri ingkang winantu ing karahayon.
Nuwun, ngaturi uninga bilih Bapa Sutarno sakulawangsa ngambali sugeng rawuh kairing atur panuwun ingkang tanpa upami, dene Bapa/Ibu Siswanto sampun kepareng rawuh paring berkah pangestu dhateng putra temanten kekalih, inggih Adimas Santo lan Dhiajeng Ratih ing wiwawahan jumeneng wekdal punika. Saksampunipun paring berkah pangestu kanthi jawat asta saha paring pangandika, ing salajengipun kersaa para tamu angrahabi/ angresepi pasugatan prasaja kanthi mardika, inggih punika kanthi cara prasmanan ing papan ingkang kasamektakaken. Sumangga, nuwun.

Para tamu kakung miwah putri ingkang sinudarsana.
Bapa Sutarno sakulawangsa saestu bombong ing manah, pramila sanget2 ngaturaken agenging panuwun dhumateng para tamu kakung putri ingkang sampun kersa rawuh saha paring berkah pangestu. Saksampunipun angrahabi/angresepi pasugatan ingkang sarwo prasaja saha wawan pangandikan kaliyan para kadang karuh, menawi kepenggalih cekap, saha ngersakaken kondur, kawula sedaya namung saged ngaturaken sugeng kondur, mugi winantua ing karahayon. Nuwun.


Read More......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com